Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Parenting

Tugas Utama Orang Tua

Malam ini saya hanya berdua dengan pak suami. Sedangkan Umar sedang luar kota bersama keluar besar saya, bersama mbah kung dan om-omnya.  Meskipun baru setengah hari berpisah dan Insyaallah esok sudah bertemu lagi, ternyata sudah membuat saya rindu.  Saya video call omnya, lalu melihat wajah polosnya dibalik layar hp, ia tampak tertawa semringah. "Umma dimana?" tanyanya. "Umma pulang di bulak jaya, nak." Setelah itu tidak lama saya tutup dan melanjutkan pekerjaan, salah satunya melanjutkan tulisan ini.  Saya mencoba merenung, jika baru beberapa jam saja sudah begitu rindu tawa cerianya, bagaimana kelak nanti ketika ia berpamitan untuk mondok, untuk merantau, bahkan untuk menikah pada wanita sholihah pilihannya kelak.  Ya, anak hanyalah titipan. Mau tidak mau, rela atau tidak, kelak kita akan berpisah. Lalu? Setelah kita dipisahkan oleh Allah kelak. Apa yang akan terjadi? Ternyata kita akan melewati serangkaian pertanyaan dari Allah tentang amanah yang ia titipkan. S...

Mengapa Harus Mulai Toilet Training?

  Perjalanan Toilet Training Umar Musyaffa Part 1 Anak saya, Umar, memulai perjalanan ikhtiar dalam toilet training berusia kurang lebih 16-18 bulan. Saat ia sudah bisa bicara dan bisa berjalan.  Ternyata perjalanannya tidak semudah cerita-cerita toilet training yang saya dapatkan di YouTube. Beberapa dari mereka ada yang melatih anak banyak hanya 1 bulan. Sedangkan Umar benar-benar berhasil lulus toilet, artinya sama sekali tidak pakai diaper, baik di rumah atau diluar rumah di usia kurang lebih 2,5 tahun.  Artinya butuh waktu setahun lebih untuk melatih toilet training! Terlihat melelahkan bukan? Tapi setelah ia lulus rasanya sangat membahagiakan hati.  Namun diusia 2 tahunan, dia sudah tidak memakai diaper saat di rumah.  Menurut saya, perjalanan mendidik terberat setelah MPASI adalah toilet training. Perlu pembiasaan yang cukup untuk akhirnya bisa lulus toilet training. Berbeda dengan proses menyapih yang hanya perlu waktu beberapa hari. Meskipun sama-sama b...

Hikmah Tinggal Serumah dengan Orang Tua

  Tiap keluarga memang punya pencapaian masing-masing. Bukan hak kita mempertanyakannya. Kok hidup bertahun-tahun masih ngontrak sih. Enak banget ya, tinggal di pondok mertua indah. Duh, kamu ngapain aja say, kok belum ngumpulin apa-apa, Shopee terus aja sih. Dan sederet kalimat nyinyir lain.  Sayapun alhamdulillah belum mendapatkan kalimat terang-terangan bernada nyinyir begitu. Yang jelas, saya memang benci ditanya, "tinggal dimana sekarang? Sama ortu apa udh rumah sendiri?" Ummah tinggal di lantai dua, membersamai orang tua yang tinggal di bawah. Dari atas bisa terlihat jelas pemandangan "KHAS" anak-anak. Ada yang suka mukuli adeknya sendiri, kadang bahkan ditendang dan dikeplaki, si adik hanya bisa nangis merengek. Ada yang pernah membuang sandal kawannya ke genteng di sebelah rumah sambil mesoh-mesoh. Ada yang sukak bully teman-temannya. Ada yang selalu kalah dan berakhir menangis pulang ke rumah orangtuanya. Kemarin, terjadi perenungan mendalam. Apa maksud All...

Tips Bumil dan Busui di Bulan Puasa

  Teringat beberapa tahun yang lalu. Ummah mengandung Umar yang masih sangat lemah. Bergerak sedikit saja, pendarahan mengucur deras. Bagai orang yang menstruasi, meskipun kenyataannya sedang hamil.  Semua orang berpuasa, tarawih, baca Quran, ummah harus terbaring di kasur. Tak boleh sholat di masjid, sholat sambil berdiri, apalagi ikut puasa.  Kata orang awam mungkin kandungan lemah. Meskipun pada akhirnya ummah tau, inilah cara Allah menyayangi setiap ibu, memberikan cerita tersendiri agar tak pernah lupa bergantung padaNya. Tahun pertama, tak bisa puasa karena adanya pendarahan saat hamil.  Tahun kedua, Umar ASI ekslusif. Awalnya sedikit bahagia bisa ikut puasa. Hari kedua ketiga lancar, ASIpun rasaya cukup. Tapi ternyata di hari ketujuh, BBnya turun drastis. Dia yang awalnya terlihat gemoy, buka terlihat kurus perlahan.  Ya Rabb, mungkin inilah salah satu hikmah Allah memberi ruqshoh atau keringanan untuk para busui dan bumil.  Akhirnya, genap dua tahun...

Teman Menjadi Booster Kebahagiaan

  Saat Umar baru saja lahir kemarin, tepatnya setahun yang lalu, orang-orang memberikan banyak hadiah untuk Umar. Momen membuka kado hingga membaca surat berisi ucapan doa-doa baik menjadi memori yang indah. Suasana yang sudah sangat saya rindukan waktu itu. Di antar hadiah-hadiah itu, ada yang cukup istimewa. Bukan untuk si bayi, melainkan untuk ummahnya. “Kamu maukah kuberi hadiah treatment facial gratis?” katanya waktu itu. Menawarkan sebuah quality time agar bisa bersantai sejenak, terapisnya adalah temannya sendiri. Ia juga ingin membantu temannya itu yang baru merintis usaha facial homecare. Alhamdulillah Allah kirimkan sahabat yang sholihah dan perhatian pada saya. Ingatan tetiba melayang pada beberapa tahun silam. “Aku Mawar (nama samaran), kamu siapa?” Sapanya waktu itu. Dia orang yang pertama kali saya kenal sejak duduk di   bangku SMA. Dan sejak itu pula kami berteman dekat. Sebagai seorang yang pernah introvert, kadang pertemanan menjadi hal yang tidak be...

Review Mugu Training Bottle

Menemani anak belajar memang tidak mudah. Kita butuh kata ajaib untuk bisa melakukan dengan bahagia. Yakni sabar dan telaten. Berapapun banyaknya ilmu yang kita kumpulkan, tanpa dua kata itu semua akan sia-sia. Sama halnya dengan mengajarkan anak makan dan minum. Butuh kesabaran dan ketelaten ekstra. Meski sudah ikut kelas MPASI berjilid-jilid, menghabiskan banyak uang untuk ikut webinar, tetap saja akan gagal jika kita tidak siap untuk sabar. Persis seperti saat pertama kali mengajari Umar makan, dan minum. Banyak drama terjadi. Mulai hoek saat suapan pertama, tidak mau membuka mulut sama sekali, hingga rewel saat sudah bertemu makanan. Semua ilmu dan teori dari para dokter ambyaar. Rasanya ingin menyerah. Apalagi dia hanya doyan bubur instan. Tapi setelah dimotivasi keluarga untuk memasak sendiri, akupun terus belajar. Tips Mengenalkan Bayi Makan dan Minum  Hingga akhirnya alhamdulillah saya menemukan pattern yang tepat menyajikan MPASI. Apa saja itu? Berikut ...

Peralatan Wajib MPASI Pertama

Alhamdulillah kini baby Umar sudah hampir memasuki usia 6 bulan. Artinya tidak lama lagi, saya harus mempersiapkan berbagai keperluan MPASI bayi. Sejak baby Umar berusia 3 bulan, saya memang sudah mulai belajar berbagai hal tentang MPASI. Baik cara penyajian yang tepat, komposisi yang baik hingga peralatan MPASI pertama yang wajib ada. Nah, sharing kali ini saya akan membagi peralatan MPASI terbaik yang sebaiknya bunda siapkan sebelum si bayi akhirnya memasuki usia 6 bulan. 1. Panci Kukus Nah, peralatan perang pertama adalah alat untuk memasak MPASI itu sendiri. Bagi teman-teman yang memiliki uang lebih tidak ada salahnya untuk mencoba slow cooker atau baby food processor. Tapi karena sedang berhemat, saya memilih untuk membeli peralatan MPASI yang murah meriah dan long lasting, yakni bisa tetap dipakai meski sudah tidak lagi MPASI. Akhirnya pilihan jatuh pada panci presto 3 in one Happy Call. Panci yang bisa untuk kukus, presto dan kuah.  2...

Mimpi Jadi Guru Mentor Inspiratif

Dear anakku Umar, genap umurmu 5 bulan, artinya sebulan lagi umma harus mempersiapkan MPASImu. Dear Umar, umma memang seorang ibu yang mungkin sama dengan semua ibu di dunia ini.  Sama-sama memiliki lelah dalam membersamaimu, sama-sama merasakan bahagia saat mencandaimu, dan sama-sama bangga saat mulut mungilmu memanggil gelar kebanggaan itu, umma, umi, ibu, bunda atau gelar-gelar mulia lainnya.  Tapi nak, umma berbeda dari ibu lainnya.  Umma memang bukan perempuan kaya raya yang bisa memberimu segudang fasilitas mewah.  Umma juga bukan perempuan cantik, yang tiap hari menghiasi media dan layar kaca, perawatan mahal dan tetap cantik meski usia dan jumlah anak bertambah.  Umma juga bukan perempuan yang berpendidikan tinggi, bergelar S3 dari luar negeri. Meski pernah memiliki mimpi itu, tapi sudah umma kubur dalam-dalam sejak membersamai abah dan memperjuangkan kehadiranmu.  Nak, tapi umma adalah ibu yang berbeda.  Umma memiliki doa-doa panjang untukmu. ...

Cara Menasihati Anak - Belajar dari Lukman

Mengeja kebahagiaan di tengah-tengah masa-masa sulit seperti ini memang kadang melelahkan. Kita harus menyiapkan banyak stok sabar membersamai anak-anak dan suami selama 24 jam di rumah. Jadi izinkan saya menasihati diri saya dan semua orang tua yang berkenan mengeja tulisan sederhana ini. Dear umma aba, ayah bunda, dan semua orang tua kebanggaan anak-anak, Tentu kita banyak sepakat, bahwa aturan hidup terbaik telah diatur dalam agama kita, tidak terkecuali konsep parenting atau mendidik anak. Ada banyak rahasia parenting terbaik yang Allah siapkan dalam kitab suci dan sunnah Rasul kita. Mari sejenak kita simak pelajaran parenting berharga yang ada dalam surat Lukman. Ada begitu banyak ilmu parenting yang luar biasa hebat jika kita mau mendalaminya. Banyak sekali para ulama yang menjelaskan tentang dahsyatnya nasihat Luqman ini. Sungguh kefakiran ilmu saya membuat saya tidak pantas untuk menyampaikannya. Baca juga: 3 Pencapaian Terbaikku Jadi, izinkan saya menyampai...

3 Pencapaian yang Saya Syukuri - Laporan Puasa Pekan Ini

Welcome Sya'ban! Selamat datang! Kedatanganmu menjadi isyarat bahwa bulan termulia akan datang hanya dalam hitungan hati.  Bulan ini adalah bulan persiapan untuk menyambut bulan termulia. Ada tantangan yang harus ditaklukkan. Ada amalan yang harus diberbanyak. Ada hati yang harus dipersiapkan.  Apakah sahabat pembaca memiliki persiapan khusus menyambut kebahagiaan di tahun ini? Program 30 hari puasa  Sebagai perempuan biasa yang penuh kekurangan, saya memang tidak memiliki persiapan khusus menyambut bulan terbaik ini. Namun seperti yang Rasulullah kita anjurkan, saya memiliki program untuk berpuasa menjadi pribadi yang lebih baik. "Better Me Challenge", begitu saya menyebutnya. Sebuah tantangan yang saya ambil untuk menjadi seorang yang lebih baik.  Berpuasa sementara dari segala yang menghambat diri ini untuk menjadi the best version of myself. Apakah sahabat juga berkenan mengikuti program puasa ini? Realisasi dan Pencapaian Pekan Ini ...

List Perlengkapan Bayi Baru Lahir

Sejak usia kandungan 7 bulan, saya sudah semangat membeli berbagai perlengkapan untuk dedek bayi. Pertama karena bosen di rumah terus, kedua tentu saja karena exciting   dengan kehamilan yang telah lama dinanti ini. Memasuki masa trimester ketiga lalu, saya cari fokus pada mempersiapkan keperluan bayi baru lahir. Mulai saya cari referensi di internet, hingga tanya teman-teman yang sudah melahirkan lebih dulu. Tidak hanya itu, saya juga cari-cari referensi lewat membaca  berbagai buku. Salah satunya adalah buku "Baby Led Parenting" karya dua bidan di luar negeri. Dari sana saya belajar bahwa ternyata tidak disarankan untuk kita membeli stroller. Mengapa? Karena skin to skin antara ibu dan bayi ternyata lebih penting, apalagi untuk newborn. Menggendong, memeluk dan menimang lebih dibutuhkan untuk membangun bonding dengan si kecil. Tapi menurut saya tetap butuh saat kita harus mengajak si kecil keluar dengan harus jalan kaki yang jaraknya cukup jauh. Perlengkapan Bayi ...

Bertukar Hadiah dengan Teman di Luar Negeri

Assalamu'alaikum sahabat pembaca tercinta, Dua pekan yang lalu, saya mendapat tantangan unik dari Kelas Bunda Cekatan. Yakni untuk mencari teman-teman sebanyak-banyaknya, bahkan kalau bisa lintas benua. Sayangnya waktu itu saya terpaksa tidak mengumpulkan tugas. Karena saat detik-detik deadline di jam cinderella, baby Umar rewel plus suami sedang ada di Bandung. Lengkap sudah alasan tidak mengerjakan PR, hehe. Padahal saya sudah gerilya mencari teman di detik terakhir itu. Beruntung, meski sudah di hari terakhir, masih ada teman-teman di lintas negara yang mau membalas surat pertemenan saya. Nah, sekarang saya mendapat tugasnya berikutnya yang tidak kalah seru, memberi hadiah berupa ilmu pada 3 teman pilihan. Masyaallah. Saya gelagapan dong. Wong saya ini jarang aktif di grup alias cuma jadi silent reader . Bisa jadi tidak ada hadiah buat saya. Kecuali takdir indah dari Allah berkata lain. Baca juga: Pengalaman jadi Seorang Introvert Saya tak terlalu risau ka...

5 Ilmu yang akan Saya Pelajari di tahun 2020

Seperti ibu lainnya, saya ingin anak-anak saya menjadi para ahlul ilmu. Menjadi orang yang berilmu yang cerdas, pintar dan ilmunya bermanfaat. Berharap anak-anak menjadi seperti Imam Syafi'i yang hafal Qur'an di usia belia. Hafal hingga nomor dan letak suratnya, seperti Ustadz Adi Hidayat. Namun, Ustadz Salim A. Fillah, yang saya dengar kajiannya di YouTube kemarin,  memiliki anak-anak yang hebat seperti diatas bukanlah tentang bagaimana anaknya, tapi lihatlah bagaimana orang tua mereka mendidiknya.  Bagaimana orang tua Imam Syafi'i, Ustadz Adi Hidayah, dan orang-orang besar lainnya mendidik anak mereka. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang faqir ilmu, rasanya memang jauh sekali antara impian dan kenyataan. Tapi setidaknya selain berdoa, saya ingin berusaha meningkatkan kualitas diri saya, sebagai seorang ibu, istri dan perempuan. Sebagai salah satu ikhtiar, saya ingin mempelajari beberapa ilmu yang sesuai dengan passion saya di tahun 2020 ini. 1. Ilmu ...

Jurnal Telur Merah Ibu Baru - Tugas Bunda Cekatan #2

Menjadi seorang ibu adalah amanah yang besar dari Allah. Karena bagaimana cara ia mendidik sang anak, akan menentukan pribadi seperti apakah anaknya nanti. Saya banyak belajar bahwa menjadi ibu tidak hanya boleh sekedar mengasuh, memberinya asi dan makanan, dan menyekolahkan. Lebih dari itu, ibu harus menjadi sekolah pertama yang berkualitas bagi anak-anak. Ya, harus berkualitas! Sebab kualitas seorang ibu akan melahirkan generasi yang berkualitas pula. Baca part sebelumnya: Jurnal Pertama Ibu Baru Seperti yang telah saya tulis di jurnal pertama, bahwa tugas pertama untuk melejitkan kualitas ibu adalah dengan identifikasi aktivitas keseharian yang bisa dan suka. Karena disanalah letak kekuatan atau kelebihan yang harus kita gali lebih. Nah, tugas kedua adalah dengan menentukan keterampilan untuk mendukung aktivitas yang bisa dan suka itu, agar kebahagiaan kita berjalan dengan "aman dan nyaman tanpa gangguan." 1. Ilmu agama 2. Ilmu parenting 3. Ilmu op...

Aliran Rasa Terakhir di Bunda Sayang

Ada air mata yang tertahan. Saat melihat, mendengar dan merasakan buruknya akhlak anak-anak di sekitar saya. Bicara kasar pada orang tua, tiada kesibukan selain sekolah dan bermain gadget, susah sekali disuruh sholat, dan segala perilaku yang tak layak didengar dan dilihat. Sungguh saya memang tak layak untuk menyalahkan orang tua mereka. Sebab saya belum tentu mampu jika diuji dengan anak-anak yang demikian. Sumber: Pixabay Hari ini, tepat diusia yang telah genap 24 tahun, Allah karuniakan seorang janin berusia 28 weeks. Seorang anak yang semoga Allah mampukan untuk mendidiknya, mengenalkannya pada Rabbnya. Aliran rasa ini adalah penutup dari seluruh kegiatan selama kurang lebih setahun belajar di kelas Bunda Sayang. Ada semangat untuk segera menerapkan kegiatan-kegiatan kemarin pada anak-anak. Ada rasa tak sabar untuk segera menjadi seorang "Bunda Sayang". Jika yang ada di ruang batinmu adalah harapan pada kehidupan yang kekal di kampung akhirat, I...

Pendidikan Seksual Anak dalam Islam

Setiap manusia Allah anugrahi fitrah berupa dorongan biologis. Sebab dengan inilah kehidupan manusia terus lestari. Allah yang menciptakan, Allah juga yang telah memberi petunjuk agar manusia menyalurkan dorongan ini dalam jalan yang benar, yaitu lewat pernikahan. Seorang anak juga akan memasuki masa dimana ia akan merasakan dorongan ini. Masa itu disebut dengan taklif, dimana seorang anak telah diberikan beban tanggung jawab atas segala perbuatannya. Allah telah memberikan beberapa aturan agar dorongan biologis ini terhindar dari segala penyimpangan moral, sex diluar nikah, nikah sejenis, pedofil, dan segala kengeriannya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Menyuruh Anak Minta Izin Sebelum Masuk Kamar Orang Tua  Pendidikan pertama adalah saat usia mereka belum baligh, yaitu kita harus. embiasakan anak untuk meminta izin dahulu sebelum untuk masuk ke kamar orang tua. Adapun waktunya adalah menjelang sholat subuh, menjelang waktu zuhur dan setelah isya. ...

Mengenalkan Anak tentang Perbedaan Gender

Akhir-akhir ini dunia memang digoncang dengan krisis gender. Mulai banyak laki-laki berubah jadi perempuan, lalu jadi tren. Mereka mendapat panggung istimewa. Jika dulu mungkin kita hanya bisa lihat mereka di jalanan, kini mereka tampil di sosial media. Tiap hari kita tonton. Bahkan jadi viral. Belum lagi lesbian, gay, dan turunannya. Membuat para orang tua ngeri. Konsep gender menjadi kabur. Perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan jadi abstrak. Sebelumnya, perlu saya jelaskan dulu. Apa bedanya dengan jelas kelamin? Jenis kelamin hanya mengacu pada hal biologis. Sedangkan gender mengacu pada perbedaan sifat, peran dan tanggung jawab. Mengapa harus Mengenalkan Konsep Gender?  Memahamkan gender pada anak harus dilakukan sejak dini. Sebab pemahaman di masa golden age inilah, memory akan tertanam kuat. Pemahaman ini kemudian berpengaruh pada perilakunya kelak. Ya, orang tualah yang berperan untuk memahamkan perbedaan konsep gender ini. Bagaimana Caranya? ...

Mengajak Dedek Sholat Gerhana

Hari ini spesial sekali, karena si dedek tak hanya mendengar stimulus dari saya ibunya saja, tapi juga dari tausyiyah saat saya mengikuti sholat gerhana bulan.  Pagi-pagi sebelum subuh saya dan suami bergeges menuju masjid untuk melaksanakan sholat gerhana bulan. Setelah sholat, ustadz Sholeh mulai memberikan tausyiyah. Tentu saja saya bahagia karena hari ini adalah hari produktif dimana saya bisa mengajak dedek dalam memulai hari dengan amal sholih. Sang Ustadz menceritakan peristiwa gerhana yang ada di zaman Rasulullah. Waktu itu Nabi Muhammad sedang berduka dengan meninggalnya putra beliau yang masih bayi, Ibrahim. Saat terjadi gerhana, siang hari berubah menjadi gelap. Para sahabat mulai banyak yang mengatakan bahwa langitpun ikut sedih dengan kematian putra Rasul. Rasulullah segera bergeges mengumpulkan para sahabat di masjid, seakan ada sesuatu yang penting untuk disampaikan pada para sahabat. Ada ketakutan yang terlihat dari wajah Rasulullah. ...

Kisah Kehamilan Day #3

Hari ini saya bersemangat, karena saya akan kembali hadir di majelis ilmu setelah berbulan-bulan tidak hadir. Awal kehamilan yang masih rawan membuat dokter meminta saya untuk bedrest. Saya bersyukur bisa kembali hadir di taman-taman surga ini. Kesyukuran ini ditambah dengan nasihat sang Ustadz yang mengingatkan tentang pentingnya hadir di majelis ilmu. Sang Ustadz mengingatkan tentang sabda Rasul, "Barangsiapa yang diinginkan kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan ilmu kepadanya." Bahkan sewaktu kajian berlangsung si dedek aktif menendang-nendang. Seakan ia ikut bahagia. Alhamdulillah. Selain kajian, saya tidak lupa untuk berinvestasi untuk dedek bayi, yakni dengan membeli buku tentang parenting. Alhamdulillah hari ini sangat istimewa, semoga Allah menghadiahi nikmatnya kembali di esok hari. Aamiiiin. #GrabYourImagination #Kuliah BunSay IIP #Level 10 #MembangunKarakterAnakMelalui Dongeng #Tantangan 10 hari