Tahun 2020 menghadirkan banyak sekali warna-warni kehidupan yang berbeda. Pertama tentu kita menghadapi bersama masa-masa Pandemi yang menguras kesabaran. Kita dituntut untuk tetap di rumah, meski kebosanan melanda. Meski begitu, daripada mengeluhkan berbagai kekurangan yang kita miliki, lebih baik kita mulai mensyukuri segala nikmat yang Allah syukuri. Bagi saya, setidaknya ada 5 pencapaian yang harus saya syukuri di tahun 2020 ini. Berikut cerita bahagianya. 1. Melewati kehidupan baru sebagai ibu Inilah pencapaian yang sangat saya syukuri. Setahun sudah Allah memberi kesempatan membersamai Umar. Jika biasanya saya sendirian ditinggal suami dinas luar alias menjalani LDR, kini saya punya teman. Teman yang keceriannya mewarnai kehidupan tiap hari. Jika biasanya saya malas masak, saya harus masak tiap hari agar berat badan Umar bertambah. Selain itu terlalu sering beli masakan di rumah juga tidak baik bagi kesehatan, khususnya bayi, sebab terlalu banyak peny...
Posts
Showing posts with the label Islam
Published by
Nabila Cahya Haqi
Kali ini saya tidak akan membahas hal-hal seputar traveling atau review, tapi saya akan berbagi sedikit mood-booster yang selalu saya pikirkan kapanpun saat merasa lelah dan ingin putus asa. Pasrah bukan berarti menyerah. Bukan! Ia adalah titik terindah dari segala perjuangan kita. Berjuang memeluk mimpi dan harapan. Berjuang untuk mengakhiri apa yang sudah kita mulai. Berjuang untuk bangkit dari kesedihan. Berjuang untuk mendapatkan pertolongan Allah. Ya, terus berjuang. Pasrah itu bukan pasrah pada keadaan. Tapi pasrah pada Sang Pemilik Manusia. Memasrahkan segalanya pada Allah itulah yang namanya tawakal. Tawakkal: Kata terindah yang pernah ada pada kamus kehidupan kita. Tawakal itu ikhlas, rela, dan ridho atas semua ketetapan dari Allah. Menikmati takdir Allah dengan bahagia. Kita memang tak bisa memastikan akankah bisa berjuang hingga akhir. Tapi kita bisa memastikan bahwa kita akan terus berjuang untuk tiap doa yang kita panjatkan. ...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Assalamualaikum teman-teman, terima kasih sudah berkunjung di blog saya.. ^^ Kali ini saya akan berbagi pengalaman saat menghadiri seminar ISEF 2018 yang diadakan di Grand City Surabaya. Sudah beberapa kali saya mengikuti event di gedung convention dan pusat berbelanjaan atau mall ini. Bedanya event kali ini adalah pameran atau perhelatan Ekonomi Syariah yang diadakan salah satunya oleh KNKS. Apa itu KNKS? Banyak hingga ujung ya, hehe. Meski hujan deras, saya dan suami tetap ke acara bernama ISEF ini. ISEF adalah singkatan dari Indonesia Syariah Economic Fair. Goal atau visinya adalah untuk memajukan perekonomian Syariah di Indonesia. Masya Allah, mulia sekali. Saya dan tiap muslimpun tentu bercita-cita agar perekonomian Islam dapat tegak sempurna di bumi Allah bernama Indonesia ini. Sebagai orang yang masih awam keuangan syariah, saya langsung cus ke stand milik KNKS. Nanya-nanya banyak dan dapet souvernir banyak juga, wkwkwkw. KNKS singkatan dari Komite Nasional E...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Tak lama lagi, tahun berganti. Rasanya banyak sekali hal yang mewarnai tahun 2018 ini. Mulai dari hal yang paling membahagiakan seperti traveling keluar negeri, hingga hal yang paling menyedihkan menguji, misalnya harus kehilangan sesuatu yang kita cintai. Bagaimanapun, hidup harus terus berlanjut dan kita harus menjalaninya dengan terbaik. Sebagai rasa syukur atas nikmat yang sangat diberikan oleh Allah. Tahun depan, saya akan menjalani hari baru. Mengapa? Karena saya sudah tidak lagi harus bekerja diluar rumah alias resign. Apa saja yang ingin saya lakukan tahun depan? Haruskah saya jadi pengangguran? Big no! I have 5 have to do list. 5 hal yang akan selalu saja panjatkan dalam doa dan akan terus saja ikhtiar sebagai jalan sunnatullah. 1. Umroh ke Baitullah Selalu terselip kerinduan tiap kali melihat foto-foto indah teman-teman yang kesana. Kerinduan ini saya terjemahkan dalam doa-doa yang selalu saya panjatkan. Sebab saya yakin, panggilan Allah ke ba...
Published by
Nabila Cahya Haqi
"Apa harta berharga yang kamu miliki?" Saat ada yang bertanya seperti itu, jawaban orang pasti berbeda. Ada yang rumah yang dibeli dari hasil tabungan 20 tahun, HP Xiaomi keluaran terbaru, atau istri yang sholihah (kalau ini suami kita yang bilang, wkwk). Bagi saya, buku-buku itulah harga berharga yang ada di rumah. Saya memang tak punya apa-apa. Tapi bisa mengoleksi banyak buku berkualitas itulah harta titipan Allah yang sungguh berharga. Nah, kali ini saya akan sharing kenapa harus mengoleksi buku? 1. Mood Booster Sesekali saat suntuk pergi ke toko buku, cari buku-buku Islami yang akan menjadi jawaban atas masalah kita. Misal membaca Laa Tahzan karya Aidh Al-Qarni atau Lapis-Lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah. Saat anak-anak mulai sering rewel butuh piknik, ajak saja ke toko buku. Buku akan menjawab kebutuhan kita. Seperti kata Nabi, "Ilmu itu wajib bagi seluruh Muslim.". Gimana cara berilmu yang menyenangkan? Tentu saja membaca! Sayangny...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Sungguh, bukan perkara mudah untuk menjadi merangkai asa menjadi keluarga yang dicinta Allah. Apalagi Allah Ar-Rahim menguji dengan belum hadirnya buah hati di tengah keluarga kami. Jangan sampai rasa lelah membuat kita berpikir untuk menyudahi semuanya. Simpan saja rapat-rapat kata menyerah. Tetap berjuang dan berjuang. Bahkan harus berjuang lebih keras dan lebih keras, salah satunya lewat tantangan kemandirian kemarin. Senang rasanya lihat tulisan teman-teman di tantangan kemandirian ini. Apalagi mayoritas melatih kemandirian putra-putrinya. Masya Allah. Kali ini saya janji tidak akan bermelo-melo seperti tulisan yang lalu. Tapi saya ingin sekedar mengevaluasi hasil dari tantangan kemandirian kemarin. Sebenarnya kemarin saya menantang diri saya untuk melakukan ikhtiar untuk kembali program hamil. 1. Masak masakan sendiri di rumah 2. Olahraga 3. Hindari karbo dan gula Kenapa 3 hal ini? Sebab kata dokter saya terkena sindrom PCOS, apaan tuh? Googling deh, hehe...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Siang itu saya pulang ke rumah kedua (rumah bapak dan ibu). Sama seperti hari-hari lain saat saya pulang, pemandangan pertama yang saya lihat adalah ibu yang sedang menemani tamu. Tiap pagi dan malam tamu selalu berdatangan dan ibu menyambutnya dengan ramah dan sabar. Ibu, sosok yang kehadirannya dibutuhkan banyak orang. Ibu adalah sebutan untuk nenek saya. Disebut begitu biar awet muda, katanya. Sementara saya memanggil umi pada ibu kandung saya. Sejak muda beliau sangat senang membantu orang lain. Salah satunya adalah 'hobi' menjodohkan para jomblo. Ya, ini bukanlah hal sepele, karena menjodohkan adalah salah satu perintah dalam Al-Qur’an: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu , dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan m...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Saya sudah putus asa, waktu itu. Sebuah mimpi hancur berkeping-keping. Mimpi yang saya bangun sejak SMA hancur dan sempat akan saya kubur hidup-hidup. Mimpi itu sederhana, keluar negeri. Awalnya mimpi saya membumbung tinggi. Dengan semangat menggebu saya bermimpi bisa kuliah di Al-Azhar Kairo. Mulai menghafal Al-Qur'an, belajar Bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama lainnya. Kelak saya menyesal, sebab semua usaha yang saya lakukan hanya untuk dunia. Mungkin waktu itu saya bermimpi gegara nge-fans novel-novel Kang Abik, hehe. Tak ayal jika mimpi ini terhempas angin begitu saja. Sebab keadaan orang tua yang kurang mampu mengharuskan saya kuliah gratis di sekolah negeri, mulai SD hingga SMA. Saat diterima di UNAIR, saya rajut lagi mimpi itu. Meski mimpi kuliah di Al-Azhar diturunkan menjadi, "yang penting keluar negeri", entah beasiswa short course atau sekedar jalan-jalan. Tapi kisah seakan berakhir tragis, mimpi itu seakan mustahil, sebab hingga hari kelulusan ku...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Ruangan sudah penuh sesak. Saya mencoba mencari celah untuk bisa sekedar duduk dan melihat ke layar. "Disini tak apa, itu masih banyak yang mau masuk ruangan ndak bisa." Kata teman SMA saya. Alhamdulillah Allah perkenankan untuk bersua lagi ditempat yang indah ini. Ya, kami bersyukur masih dapat tempat duduk. Meski berada tepat dibawah layar proyektor. Jika memaksa melihat layar, mata akan sakit, yasudah banyak menunduk saja, untuk menulis." Kalimat demi kalimat berusaha saya tuliskan. Hingga akhirnya sampailah pada sebuah kata, "Butuh waktu berapa tahun lagi Anda untuk menghafalkan Al-Qur'an?" kalimat itu begitu menusuk dan menghujam ke ulu hati. Kalimat yang diucapkan seseorang yang ada di layar proyektor itu. Ya Rabb.. Tabligh Akbar Ust. Adi Hidayat Hari itu, 10 November 2017 Ustadz Adi Hidayat berkunjung ke Surabaya. Satu-satunya kajian yang dikunjungi di Surabaya adalah Masjid Al-Irsyad. Jaraknya hanya sekitar 10 km dari rumah atau sek...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Kemarin di grup Blogger Muslimah Indonesia, sang founder bercerita, ada seseorang yang bercerai dengan suaminya. Intinya ia stress, lalu seorang psikolog menyuruhnya untuk menulis. Kini lukanya itu sembuh karena ia terus menulis. Satu hal yang saya pelajari, menulis adalah sebuah terapi menyembuhkan luka. Di hari yang sama, saya juga belajar tentang luka dari seorang novelis internasional, Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara. Sebuah novel yang menyihir dunia dengan mantra ajaibnya, "man jadda wajada". Hari itu saya hadir dalam bedah buku terbarunya, "Anak Rantau". Berkisah tentang seorang bernama Happy. Ia dipaksa oleh bapaknya pulang dari perantauannya. Kembali dari perjalananya menjelajah dunia menuju kampung dia dilahirkan, tanah Minang. Belajar Memaafkan Menurut sang penulis, novel ini memiliki misi agar pembacanya belajar banyak tentang memaafkan. Sebagaimana sebuah novel yang tidak boleh menggurui pembacanya, novel Anak Rantau ini adala...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Para sahabat sedang berkumpul bersama Rasulullah. Semua wajah menegang. Seluruh sabahat berpikir keras untuk menemukan strategi yang tepat. Rasulullah sedang meminta pendapat dari para sahabatnya, seperti biasanya. Lalu sahabat Salman Al-Farisi mulai berbicara. Semua wajah tertuju pada Beliau. "Di Persia masyarakat yang hendak berperang membuat sebuah parit." Ujarnya. Ya, Rasulullah dan para sahabat lainnya setuju dengan pendapat Salman. Kaum Muslimin Madinah tak perlu pergi keluar Madinah. Cukup membuat parit besar, dimana kuda tak bisa melompatinya. Jika turun tak akan bisa naik kembali ke atas. Begitulah suasana menegangkan Perang Khandaq yang unik. Sebab kaum Muslimin tidak menghadapi langsung musuh. Lewat peperangan ini ada pelajaran berharga yang dapat diambil. 1. Allah tak akan Menyia-nyiakan HambaNya yang Beriman Siapa menyangka bahwa kaum Muslimin yang hanya berjumlah 300 orang dapat mengalahkan pasukan musuh berjumlah 10.000 orang....
Published by
Nabila Cahya Haqi
Andaikan kita boleh mengatakan andaikan. Kita akan berkata, "Andaikan aku tak sekolah disana, tentu aku tak punya masa kecil yang kelam" "Andai dulu aku tak menolak lamaran si dia, pasti jodohku tidak seburuk sekarang." "Andai aku tak bekerja, anak-anakku tak akan jadi seperti sekarang." "Andai aku tak bercerai" dan sederet andaikan-andaikan lainnya. Namun, begitu sempurnanya Islam, agama ini melarang ummatnya untuk menyesali hal yang telah terjadi dan berkata andaikan. ika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan”. (HR. Muslim no. 2664) Sumber: https://muslimah.or.id/3345-perkataan-seandainya-membuka-pintu-setan.ht...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Seorang ibu, sebut saja Bu Tika. Sepulang dari mengaji, ditengoknya sang suami yang sedang sholat. Ia amati gerakan suaminya ketika itu. Tak lama setelah suaminya selesai, perdebatanpun dimulai. Sepele memang, sang istri hanya ingin mengingatkan suaminya. Seharusnya, ujar dia, saat mau sujud tangan dululah yang menyentuh lantai, bukan lutut. Sang suami yang merasa disalah-salahkan oleh istri, tak terima. Karena yang suami yakini justru sebaliknya. Hingga keluarga yang sebelumnya tentram, malah menjadi arena peperangan. Ujungnya, sang suami melarang istrinya mengaji. Lain Bu Tika, lain pula yang terjadi pada Bunga (nama samaran). Akhir-akhir ini orang tua Bunga mengeluh gara-gara semenjak ikut pengajian, Bunga sering memarahi ibunya. Seringkali Bunga menyalahkan sang ibu dengan kata-kata ujaran, "Bid'ah", "Syirik", dll. Terlebih ketika sang ibu keluar rumah tanpa berkerudung. Ia tak segan memarahi ibunya. Berbeda dengan Boy, yang baru-baru ini menga...