Dulu ketika zaman kuliah, sempet kenal beberapa pimpinan aktivis BEM. Meskipun belum sempat nyemplung kesana, tapi menjadi jurnalis kampus membuat saya mengenal kegigihan mereka. Beberapa diantara mereka, anak-anak BEM adalah anak-anak rohis (kerohanian Islam) yang juga aktif berdakwah di kampus. Kebanyakan mereka juga adalah para mahasiswa berprestasi atau dulu disebut mawapres. Beberapa mereka memang anak Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, fakultas yang bersebelahan dengan fakultas saya, FIB. Tapi banyak diantara mereka malah bukan sama sekali anak politik, banyak yang justru dari jurusan MIPA. Saya mengenal betapa mereka dididik untuk memikirkan orang lain. Sebenarnya justru bukan hanya dari para dosen. Melainkan dari keyaninan mereka, bahwa hidup itu bukan hanya tentang hidup. Melainkan tentang bagaimana kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Bergolak hati saya setelah suami menceritakan kabar terbaru mengenai mereka. Ya, aktivitas menjadi ibu memang membuat saya kadan...
Posts
Showing posts with the label Tips
Published by
Nabila Cahya Haqi
Pernahkah kita merasa bahwa hidup tak lagi berarti. Saat dimana kita ingin Allah segera mempercepat ajal kita? Saat kita di titik ingin menyerah. Lelah dan ingin mengakhiri semuanya. Memang wajar jika terbersit rasa ingin menyerah dan mengakhiri semuanya. Bahkan saya sendiri juga pernah merasakan getaran ingin segera berhenti dari kehidupan dunia yang waktu itu menyesakkan. Namun dibalik semua itu, tahukah kita, bahwa Rasul melarang kita untuk meminta disegerakan ajal. Karena saat terputus nafas dari tenggorokan, semuanya amalan terhenti. Tak ada waktu lagi untuk menuai amal sholih dan kemanfaatan di dunia. Tak perlu kita meminta untuk segera meninggalkan dunia. Sebab sebaik-baik manusia, kata Rasul, adalah yang berumur panjang dan penuh dengan amal sholih. Umur panjang adalah kemuliaan. Asalkan diisi dengan keberkahan dari amal-amal sholih. Sebab umur yang panjang adalah kebaikan. Maka saatnya menjadi seorang yang produktif melakukan kebaikan. Salah satu i...
Published by
Nabila Cahya Haqi
"Oek... oek... oek..." Tangisan bayi saya memecah keheningan malam. Jam menunjukkan pukul 12 malam, tapi saya harus melawan ngantuk untuk memberi ASI padanya. Ya Allah, begini ya beratnya jadi ibu, harus bangun berkali-kali di malam hari. Tidur dengan posisi menyusui berjam-jam hingga pundak terasa pegal. Meski ia sudah terlelap, saat ASI ditarih, eh bangun lagi. Perasaan lelah itu berusaha sekuat tenaga saya tepis, sebab hal inilah yang telah saya nantikan bertahun-tahun: menjadi ibu dan menyusui buah hati. Meskipun sama seperti para ibu pejuang ASI, saya berjuang menghadapi tantangan-tantangan saat menyusui. Misalnya rasa lelah dan bosan. Bayi hanya tidur sejenak selama 1 jam, kemudian terbangan lagi untuk minta ASI. Belum lagi cukup sulit untuk memasukkan puting ke mulut bayi, jadi saya harus memasukkan mulut untuk masuk tepat sempurna di mulut si kecil. Tidak jarang saya harus memasukkan berkali-kali hingga si bayi nyaman. Perjuangan belum usai. M...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Dulu saat menjadi mahasiswa, saya seringkali main ke kos-kosan teman saya. Ada kosan murah dengan fasilitas sederhana, ada pula kost dengan harga tinggi tentu dengan fasilitas yang mewah. Saya jadi teringat akan sebuah cita-cita saat SMA. Sejak sebelum kuliah, saya memang memiliki impian untuk merantau keluar kota dan tinggal jauh dari zona nyaman bersama keluarga. Qadarullah, takdir membawa saya untuk kuliah di UNAIR, kampus yang tidak jauh dari rumah. Jadilah impian itu hanya tinggal cita-cita. Setelah menikah, mimpi untuk bisa mandiri dan tinggal di kos atau kontrakan terbersit kembali. Namun sekali lagi, taqdir Allah membawa saya pada episode yang berbeda. Suami meminta untuk tinggal bersama kedua orang tuanya sampai ia bisa membeli rumah sendiri. Apakah mimpi ini harus saya kubur dalam-dalam? Tentu tidak. Saya ingin melukis impian yang jauh lebih tinggi. Yakni bisa memiliki properti yang digunakan untuk kos yang berkonsep Islami. Impian akan hanya sek...