"Orang tuaku belum mengizinkanku menikah." curhat seorang muslimah. Alasannya klasik, masih kuliah. Padahal sang perempuan sudah terlanjur cinta dengan seseorang, dan sang laki-lakinya pun rasa yang sama, dan siap untuk menikahi. Kisah seperti ini, tak hanya satu. Banyak perempuan yang mengeluhkan tentang hal ini. Terhalang menikah karena Restu orang tua. Orang tua seringkali menganggap anaknya belum dewasa. Sehingga jika sang anak meminta izin untuk menikah, orang tua justru akan mentertawakan anaknya, " Arek cilik kok pengen rabi (anak kecil kok ingin nikah." begitu pikir orang tua. Bahkan ada orang tua yang juga masih berat untuk melepas anaknya meski sudah menikah. Memintanya untuk tetap tinggal bersama mereka. Tak hanya soal menikah, banyak orang tua yang juga melarang anaknya kuliah di luar kota, jauh darinya. Persoalan selanjutnya adalah saat intervensi yang terlampau besar pada sang anak. Ada sebuah kisah nyata yang dialami oleh nenek say...
Posts
Showing posts with the label Marriage
Published by
Nabila Cahya Haqi
"Barakallahu Laka wabaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir" Doa ini mengalir pada pasangan Muslim yang baru saja mengikut cinta dalam pernikahan. Ya, doa ini ialah anjuran dari Nabi, bukan mendoakan, "Semoga segera punya momongan." atau "Semoga langgeng." Bahkan bukan pula "Semoga Sakinah, mawaddah wa Rahmah" Sebab Sakinah mawaddah wa Rahmah telah terangkum dalam doa memohonkan berkah tadi. Doa ini adalah sebuah harapan. Harapan terindah atas terikatnya dua insan. Kebahagian di dunia tidak mutlak. Mendoakan banyak anak misal, apakah lantas kita bisa menjamin dengan banyak anak pasangan ini akan hidup bahagia? Akan bertemu bersama lagi di surga. Banyak anak bukanlah sebuah ukuran sebuah kebaikan. Kyai Al-Kholil, seperti dikisahkan oleh Ustadz Salim A. Fillah, memberi contoh tentang keluarga Nabi Ishak, sebanyak 10 anaknya nakal, mereka tega membuang Yusuf, adiknya sendiri kedalam sumur. Namun, Allah tetap mem...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Sudah berhasil melewati ODOP (One Day One Post) hari ke tujuh. Alhamdulillah, masih bisa Istiqomah. Namun siang ini jemari ini macet, enggan untuk digerakkan. Padahal kemarin sudah baca buku, hendak menuliskan apa yang sudah kubaca. Namun ternyata, tetap saja, bingung apa yang harus ku tuliskan. Jadi, saya putuskan untuk berkisah saja. Berkisah tentang masa indah bernama ta'aruf. Baca juga: Mengenal Ta'aruf, Jalan Suci Menemukan Cinta Sepulang dari sholat jamaah isya, seperti biasanya ada Ikhwan yang juga jamaah di masjid. Banyak sekali ikhwan akhwat yang datang ke rumah. Tahukah untuk apa? Keluarga saya mengelola sebuah lembaga biro jodoh islami. Jadi, hampir tiap malam ada Ikhwan akhwat yang datang untuk ta'aruf, lalu berjamaah di masjid. Saya selesai dzikir, mau melaksanakan sholat sunnah, lalu si Ikhwan yang juga jamaah di masjid ini juga selesai dzikir, waktunya bersamaan. Akhirnya saya sholat dengan cepat, tentu saja enggak mau...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Suatu sore saat weekend, "Makan di hokb*en ya?" Kataku pada suami. "Yah, jangan di sana dong, yang lain aja ya.." Diam sesaat. "Gimana kalo mie filfil yang baru itu aja?" Katanya, merayu. Lalu aku mengiyakan dengan kegirangan. Berbunga-bunga hati ini jadinya, hehe. Padahal sebelumnya saya sedang mendiamkan diri. Nah, dari sini bisa diambil beberapa cara mencairkan suasana dalam Rumah Tangga. Pastikan Ada yang Mengalah Pertengkaran adalah bumbu dalam Rumah Tangga, akan ada hal-hal yang membuat kita atau pasangan merasa marah (atau minimal tidak nyaman) dengan perilaku pasangan. Solusi yang pertama adalah memastikan bahwa ada salah satu dari kita yang mengalah. Jangan sampai berlama-lama dalam pertengkaran, dan dalam kejadian yang pertama adalah suami yang mengalah. Meminta maaf pertama kali tidak akan membuat kita rugi. Jadi buat apa gengsi? Kadang jika suami yang sedanh mendiamkan saya, maka saya akan jawil-jawil untuk mencuri perh...
Published by
Nabila Cahya Haqi
" Arek wedok iku pancen ngelamak, wes ayo digarap ae! (anak perempuan itu kurang ajar, udah ayo digarap saja)" kata salah seorang murid yang membuat hati ini menangis. Dalam istilah orang Surabaya, "digarap" berarti berbuat tidak senonoh. Bagaimana tidak menangis jika anak yang belum genap berumur 10 tahun ini sudah mendapatkan kosakata seperti itu. Pernah juga saya melihat sendiri murid saya yang berusaha mencium anak perempuan yang lalu lari ketakutan. Masyaallah, saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Hal yang paling saya takutnya adalah bagaimana kita membentengi anak-anak saya nanti. Bisakah mereka bertahan tidak ikut arus teman-temannya dan justru bisa mengajak mereka untuk jadi anak yang sholih? Kengerian Zaman Sekarang Lewat gadgetnya, anak bisa mengakses apapun hanya dalam hitungan detik Siapa yang tidak ngeri mendidik anak di zaman ini? Saat berbagai kemaksiatan dan kerusakan mendatangi anak-anak kita dari berbagai arah. Mes...
Published by
Nabila Cahya Haqi
27 Mei 2017 / 1 Ramadhan 1438 H Hari pertama Ramadhan berasa nano-nano. Seneng iya, tapi juga ada asem dan pahitnya. Tanggal 24 Mei lalu, saya berduka. Karena dua tahun sudah menjadi istri, dan selama itu pula yang kami tunggu belum juga tiba, keturunan. Saya jadi sensitif saat ada teman-teman yang menikah justru setelah kami, secara beruntun hamil. Tiap ada candaan dan obrolan tentang kemahilan mereka, ada rasa takut yang terbersit. Allah.... Tahun kedua Saya terus percaya, penundaan ini bukanlah karena Allah tak sayang pada kami. Melainkan sebuah kesempatan untuk melatih kesabaran kami. Saya juga terus yakin akan janjiNya, bahwa siapa yang berdoa, pasti akan dikabulkan olehNya. Innaka sami'ud du'a'. "انك سمع ادعع " Tahun kedua ini, saya berbahagia. Karena ada orang-orang sholih yang berkenan mendoakan saya. Salah satunya adalah ustadzah tempat saya berguru, bahkan belia adalah seorang hafidz. Bukan disitu saja kegembiraan saja, me...
Published by
Nabila Cahya Haqi
22 Mei 2017 Menanti sesuatu atau seseorang terkadang melelahkan Ramadhan sebentar lagi menjelang, dan aku masih sendiri. Hidup sendiri, melalui malam sendiri hingga berganti pagi dan malam lagi, seterusnya. Sendiri memang bukan nada yang pas untuk diperdengarkan. Mungkin lebih tepatnya sepi. Sepi yang mengambil semua orang dari sekeliling. Sepi yang membuatku nyaris tak bernapas. Aku merindukannya. Kapankah ia datang? Sepi lagi-lagi menjawab, tidak ada siapapun yang akan datang. Menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam kesendirian memang mengerikan. Jangankan membayangkan, mengeja kalimatnya saja membuatku takut. Ketakutan ini terus menerus menggelayut. Hingga aku tersadar, jiwaku sedang rapuh. Kesendirian pasti Berujung Aku sadar sepenuh hati, bahwa pada akhirnya aku juga akan sendiri. Menghadapnya sendiri dengan pertanggung jawaban seberat gunung, bahkan lebih berat lagi. Betapapun aku sedih. Akan lebih menyedihkan lagi memikirkan bangunan 2x1 me...
Published by
Nabila Cahya Haqi
'Happily ever after' , sebuah mantra ajaib yang selalu mengakhiri setiap dongeng putri dan pangeran di masa kita kecil dulu. Kita membayangkan menjadi putri cantik yang apa adanya, lalu seorang pangeran tampan datang menggamit tangan kita dalam pernikahan. Sayangnya, sejak kita dewasa, realita menyulap segalanya. Bahagia tidak pernah kekal selamanya dalam sebuah rumah tangga. Terkadang ada pemandangan yang indah, matahari yang terbit diiringi burung-burung yang bercicit. Namun adakalanya diselingi dengan pemandangan menyeramkan. Suara burung hantu atau malam yang mencekam tanpa cahaya. Meski demikian, percayalah, kata itu bisa kita raih. Bisa. Bahagia, selamanya? Ya, asal kalimat itu diedit menjadi sedikit lebih panjang, “Sang wanita sholihah menikah dengan lelaki sholih, mereka selalu bersyukur saat bahagia menyapa, dan bersabar ketika ujian menghampiri. Mereka berdua khusnul khatimah dan hidup bahagia selama-lamanya di surga Firdaus yang mulia.” Indah, bukan...
Published by
Nabila Cahya Haqi
“Kamu kenapa? Lagi pilek ya?” kata sang suami melihat hidung istrinya memerah sehabis sholat. “Sudah berapa kali aku menangis seperti ini, tapi kenapa ia tak juga paham kalau aku punya masalah. Dasar laki-laki, tidak pernah peka.” batin istri. Untuk kesekian kalinya, sang istri menangis lagi ketika berdzikir usai sholat. Masalahnya pun masih sama, mertua yang menguliti habis semua kebiasaannya. Mulai dari caranya cuci baju, memasak, hingga mengurusi rumah lantai dua milik mertua yang ditinggali mereka sejak setelah menikah. Semuanya salah. Hal itu terjadi berulang kali, sebelum sang istri belajar satu hal, komunikasi. Badai itu datang lagi, ia menangis lagi. Tapi kali ini berbeda, “Aku sedang sedih mas.” jawab istri dengan sesunggukan. “Kenapa?” kata sang suami sambil memeluk bidadarinya itu. Si istripun menceritakan semua keluh yang dialami bersama mertua di pundak sang suami. Setelahnya, sang suami menemui ibunya dan memintanya untuk menceritakan keluhannya ...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Saya melihat anak-anak yang masih belia melantunkan bacaan Qur'an dengan indah, dan cadel khas anak-anak. Bukan membaca, melainkan menghafalnya, surat yang dibacapun rupanya belum saya hafal. Hafalan Qur'an mereka jauh dari saya. Ah, betapa indahnya memiliki anak-anak penghafal Al-Qur'an, pikir saya. Mereka bisa memberikan jubah kemuliaan untuk kedua orang tuanya. Mengangkat derajat kedudukan orang tuanya dihadapan Allah Azza wa Jalla. Mereka inilah keluarga Allah di dunia. Ya, Allah memiliki keluarga di dunia. Mungkin hal ini adalah sesuatu yang baru bagi kita. Begitu juga dengan saya. Namun Rasulullah telah mensabdakan tentang hal ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad, “Sesungguhnya Allah ta’ala memiliki keluarga dari golongan manusia (di muka bumi)...” Sungguh bahagia sekali jika kita bisa menjadi bagian dari keluarga Allah di dunia ini. Tapi siapakah mereka? Saat kita bertanya-tanya, dulu para sahabat saat mendengar hadits ...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Pernikahan adalah fase dalam kehidupan tiap hamba. Begitu pula dengan berketurunan. Sebagai salah satu tujuan pernikahan, anak adalah hal yang diharapkan dalam kehidupan. Tapi kehidupan selalu diiringi dengan kerikil. Banyak diantara kita yang masih belum menikah. Dan dengan entengnya orang lain bertanya padanya, "Kapan nikah" Pertanyaan yang membuat si pemilik hati gundah gulana. Menambah keperihan, dan berujung pada rasa tidak nyaman pada penanya. "Duh, teganya. Memang saya ingin seperti ini?" Ada pula diantara kita yang belum juga mendapat keturunan. Hal yang sama terjadi. Akan banyak orang bertanya, "Kapan hamil?" Pertanyaan yang membuat dada terasa sempit. Bumi yang luas serasa menghimpit. Akhirnya berujung hanya hati yang merana dan meradang. "Duh, tega sekali. Memang kami tak ingin punya anak?" Lalu apa yang bisa kita lakukan? Haruskah tiap pertanyaan yang menghujam itu menjadikan kita tak bahagia? Ikhlas dan Ri...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Percaya atau tidak, hanya sekali bertemu dengan suami saya langsung memutuskan untuk menuju jenjang pernikahan. Bertemu beberapa menit untuk kehidupan seumur hidup. Inilah ta'aruf. Dimana kita tak perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk hubungan yang tak menentu. Ta'aruf adalah sebuah proses perkenalan sebelum menuju jenjang perkenalan. Ta'aruf bukanlah pacaran, proses ini harus diniatkan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Beberapa proses ta'aruf adalah sebagai berikut. Proses Ta'aruf 1. Proposal Nikah Proses indah ini diawali dengan membuat proposal nikah. Proposal nikah ini tak hanya berisi biodata kita, melainkan hal yang spesifik. Seperti visi misi pernikahan, deskripsi keluarga, hingga kekurangan dan kelebihan kita. Setelah kita menyerahkan proposal ini pada Ustadz/Ustadzah/Murobbi yang menjodohkan kita, kita juga akan disodori proposal pernikahan milik calon pasangan. Jika memang kita tertarik untuk denga...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Honeymoon adalah salah satu kegiatan menyenangkan bagi pasangan suami istri. Banyak hal memang yang bisa kita isi dalam pernikahan dan salah satunya adalah tadabur alam. Tadabur alam adalah sebuah bentuk kesyukuran kita agar senantiasa bertasbih untuk memuji kebesaran Allah. Banyak diantara kita yang mengatakan bahwa tiap orang harus piknik, piknik, dan piknik, biar tak jenuh pada kehidupan yang fana ini. Memang benar, tapi tak ada salahnya kita belajar agar honeymoon tak sekedar senang-senang semata. Agar waktu yang kita luangkan, tenaga yang kita habiskan, hingga uang yang kita kuras, hehe, berbuah pahala. Berikut beberapa list yang harus kita centang sebelum memulai sebelum perjalanan. 1. Ridho Allah jadi Tujuan Perjalanan kita akan menuai banyak hikmah dan berkah jika segalanya bernilai ibadah. Karena kita adalah seorang hamba, maka kewajiban kita sesungguhnya hanya satu, yakni ibadah. Bumi manapun yang kita pijak, maka tujuannya a...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Al-Qur’an telah mengajarkan kita banyak hal. Semuanya menunjukkan rasa cinta Allah Subhanahu wa ta’ala pada kita, agar mengikuti penunjuk dan teladan para manusia terbaik yakni para nabi dan rasul. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka..” (QS. Al-An’am:90). Setela membaca ayat ini, Ibnu Abbas berkata pada muridnya, Mujahid, “Nabi kalian Muhammad SAW. Termasuk yang diperintahkan –oleh Allah- agar meneladani mereka.” (HR. Al-Bukhari) Diantara deretan nama agung dalam sejarah manusia, manusia yang paling agung adalah Nabi Allah Ibrahim alayhissalam. Beliau disebut sebagai bapak tauhid dan menjauhi kesyirikan. Ibrahim juga dikenal sebagai bapak para Nabi, sebab anak keturunan Beliau banyak yang menjadi Nabi, termasuk salah satu keturunannya adalah Rasulullah Muhammad SAW. Mengajarkan Tauhid Menamkan ketauhidan pada suami atau istri dan juga anak adalah pondasi utama keluarga sakinah. Wajib hukumnya menanamka a...