"Ingatlah ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya: ‘Jangan berduka, sesungguhnya Allah bersama kita..” {QS At Taubah [9]: 40} 1. Perbanyak ilmu Ilmu ibarat peta. Kita senantiasa membutuhkannya di sepanjang perjalanan. Apalagi perjalanan panjang dengan medan yang berat. Tidak ada jalan lain, cara agar kita bisa bertahan di tengah kondisi yang berat ini adalah dengan mendekatkan diri dengan ilmu. Hari ini, ilmu di dapat dengan sangat mudah. Kita cukup #dirumahaja dan mulai membuka ilmu dari gadget kita. Kita bisa membaca buku, mendengarkan kajian para Ustadz dari YouTube, mengikuti kajian webinar, juga kulwap. 2. Dekatkan diri dengan Al-Qur'an Al-Qur'an adalah obat yang paling mujarab, untuk semua masalah kehidupan. Hari-hari ini, Allah telah mudahkan kita untuk dekat dengan Al-Qur'an. Percayalah, semakin dekat dengan Al-Qur'an, maka segala duka dan masalah akan makin terasa ringan. Tapi justru sebaliknya, jika k...
Posts
Showing posts with the label Penghayatan
Published by
Nabila Cahya Haqi
Tak lama lagi, tahun berganti. Rasanya banyak sekali hal yang mewarnai tahun 2018 ini. Mulai dari hal yang paling membahagiakan seperti traveling keluar negeri, hingga hal yang paling menyedihkan menguji, misalnya harus kehilangan sesuatu yang kita cintai. Bagaimanapun, hidup harus terus berlanjut dan kita harus menjalaninya dengan terbaik. Sebagai rasa syukur atas nikmat yang sangat diberikan oleh Allah. Tahun depan, saya akan menjalani hari baru. Mengapa? Karena saya sudah tidak lagi harus bekerja diluar rumah alias resign. Apa saja yang ingin saya lakukan tahun depan? Haruskah saya jadi pengangguran? Big no! I have 5 have to do list. 5 hal yang akan selalu saja panjatkan dalam doa dan akan terus saja ikhtiar sebagai jalan sunnatullah. 1. Umroh ke Baitullah Selalu terselip kerinduan tiap kali melihat foto-foto indah teman-teman yang kesana. Kerinduan ini saya terjemahkan dalam doa-doa yang selalu saya panjatkan. Sebab saya yakin, panggilan Allah ke ba...
Published by
Nabila Cahya Haqi
"Apa harta berharga yang kamu miliki?" Saat ada yang bertanya seperti itu, jawaban orang pasti berbeda. Ada yang rumah yang dibeli dari hasil tabungan 20 tahun, HP Xiaomi keluaran terbaru, atau istri yang sholihah (kalau ini suami kita yang bilang, wkwk). Bagi saya, buku-buku itulah harga berharga yang ada di rumah. Saya memang tak punya apa-apa. Tapi bisa mengoleksi banyak buku berkualitas itulah harta titipan Allah yang sungguh berharga. Nah, kali ini saya akan sharing kenapa harus mengoleksi buku? 1. Mood Booster Sesekali saat suntuk pergi ke toko buku, cari buku-buku Islami yang akan menjadi jawaban atas masalah kita. Misal membaca Laa Tahzan karya Aidh Al-Qarni atau Lapis-Lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah. Saat anak-anak mulai sering rewel butuh piknik, ajak saja ke toko buku. Buku akan menjawab kebutuhan kita. Seperti kata Nabi, "Ilmu itu wajib bagi seluruh Muslim.". Gimana cara berilmu yang menyenangkan? Tentu saja membaca! Sayangny...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Sungguh, bukan perkara mudah untuk menjadi merangkai asa menjadi keluarga yang dicinta Allah. Apalagi Allah Ar-Rahim menguji dengan belum hadirnya buah hati di tengah keluarga kami. Jangan sampai rasa lelah membuat kita berpikir untuk menyudahi semuanya. Simpan saja rapat-rapat kata menyerah. Tetap berjuang dan berjuang. Bahkan harus berjuang lebih keras dan lebih keras, salah satunya lewat tantangan kemandirian kemarin. Senang rasanya lihat tulisan teman-teman di tantangan kemandirian ini. Apalagi mayoritas melatih kemandirian putra-putrinya. Masya Allah. Kali ini saya janji tidak akan bermelo-melo seperti tulisan yang lalu. Tapi saya ingin sekedar mengevaluasi hasil dari tantangan kemandirian kemarin. Sebenarnya kemarin saya menantang diri saya untuk melakukan ikhtiar untuk kembali program hamil. 1. Masak masakan sendiri di rumah 2. Olahraga 3. Hindari karbo dan gula Kenapa 3 hal ini? Sebab kata dokter saya terkena sindrom PCOS, apaan tuh? Googling deh, hehe...
Published by
Nabila Cahya Haqi
22 Mei 2017 Menanti sesuatu atau seseorang terkadang melelahkan Ramadhan sebentar lagi menjelang, dan aku masih sendiri. Hidup sendiri, melalui malam sendiri hingga berganti pagi dan malam lagi, seterusnya. Sendiri memang bukan nada yang pas untuk diperdengarkan. Mungkin lebih tepatnya sepi. Sepi yang mengambil semua orang dari sekeliling. Sepi yang membuatku nyaris tak bernapas. Aku merindukannya. Kapankah ia datang? Sepi lagi-lagi menjawab, tidak ada siapapun yang akan datang. Menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam kesendirian memang mengerikan. Jangankan membayangkan, mengeja kalimatnya saja membuatku takut. Ketakutan ini terus menerus menggelayut. Hingga aku tersadar, jiwaku sedang rapuh. Kesendirian pasti Berujung Aku sadar sepenuh hati, bahwa pada akhirnya aku juga akan sendiri. Menghadapnya sendiri dengan pertanggung jawaban seberat gunung, bahkan lebih berat lagi. Betapapun aku sedih. Akan lebih menyedihkan lagi memikirkan bangunan 2x1 me...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Saya melihat anak-anak yang masih belia melantunkan bacaan Qur'an dengan indah, dan cadel khas anak-anak. Bukan membaca, melainkan menghafalnya, surat yang dibacapun rupanya belum saya hafal. Hafalan Qur'an mereka jauh dari saya. Ah, betapa indahnya memiliki anak-anak penghafal Al-Qur'an, pikir saya. Mereka bisa memberikan jubah kemuliaan untuk kedua orang tuanya. Mengangkat derajat kedudukan orang tuanya dihadapan Allah Azza wa Jalla. Mereka inilah keluarga Allah di dunia. Ya, Allah memiliki keluarga di dunia. Mungkin hal ini adalah sesuatu yang baru bagi kita. Begitu juga dengan saya. Namun Rasulullah telah mensabdakan tentang hal ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad, “Sesungguhnya Allah ta’ala memiliki keluarga dari golongan manusia (di muka bumi)...” Sungguh bahagia sekali jika kita bisa menjadi bagian dari keluarga Allah di dunia ini. Tapi siapakah mereka? Saat kita bertanya-tanya, dulu para sahabat saat mendengar hadits ...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Pernikahan adalah fase dalam kehidupan tiap hamba. Begitu pula dengan berketurunan. Sebagai salah satu tujuan pernikahan, anak adalah hal yang diharapkan dalam kehidupan. Tapi kehidupan selalu diiringi dengan kerikil. Banyak diantara kita yang masih belum menikah. Dan dengan entengnya orang lain bertanya padanya, "Kapan nikah" Pertanyaan yang membuat si pemilik hati gundah gulana. Menambah keperihan, dan berujung pada rasa tidak nyaman pada penanya. "Duh, teganya. Memang saya ingin seperti ini?" Ada pula diantara kita yang belum juga mendapat keturunan. Hal yang sama terjadi. Akan banyak orang bertanya, "Kapan hamil?" Pertanyaan yang membuat dada terasa sempit. Bumi yang luas serasa menghimpit. Akhirnya berujung hanya hati yang merana dan meradang. "Duh, tega sekali. Memang kami tak ingin punya anak?" Lalu apa yang bisa kita lakukan? Haruskah tiap pertanyaan yang menghujam itu menjadikan kita tak bahagia? Ikhlas dan Ri...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Percaya atau tidak, hanya sekali bertemu dengan suami saya langsung memutuskan untuk menuju jenjang pernikahan. Bertemu beberapa menit untuk kehidupan seumur hidup. Inilah ta'aruf. Dimana kita tak perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk hubungan yang tak menentu. Ta'aruf adalah sebuah proses perkenalan sebelum menuju jenjang perkenalan. Ta'aruf bukanlah pacaran, proses ini harus diniatkan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Beberapa proses ta'aruf adalah sebagai berikut. Proses Ta'aruf 1. Proposal Nikah Proses indah ini diawali dengan membuat proposal nikah. Proposal nikah ini tak hanya berisi biodata kita, melainkan hal yang spesifik. Seperti visi misi pernikahan, deskripsi keluarga, hingga kekurangan dan kelebihan kita. Setelah kita menyerahkan proposal ini pada Ustadz/Ustadzah/Murobbi yang menjodohkan kita, kita juga akan disodori proposal pernikahan milik calon pasangan. Jika memang kita tertarik untuk denga...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Wahai saudaraku, masihkah hari ini Engkau menghirup nafas? Jika ya, sadarkah, bahwa kita terlalu hina untuk mendapatkan berbagai kenikmatan ini. Tak pernahkah kau tahu, saudara kita disana harus bertaruh nyawa hanya untuk menegakkan sholat jum'at. Atau saudara kita yang hari ini harus merasakan ketakutan. Ketakutan yang sangat menyeramkan. Tak ada rasa bahagia. Tak pernah merasakan nikmatnya tidur siang. Bahkan tank-tank siap menyerbu nyawa yang lemah. Saat jiwa-jiwa liar menerjang. Dan bom-bom yang bisa saja dengan sekejap menerobos atap rumah. Sudah terlalu sakit jiwa ini. Belum habis rasa sakit hati karena terlukanya saudara kita di Palestina. Rasa itu makin pilu ditambah dengan semakin bertambahnya jiwa-jiwa suci yang syahid di bumi Suriah. Belum ditambah Rohingya, dan berbagai kisah pilu yang terlalu sakit untuk dibahas. Boleh saja hari engkau ini kita berbangga dengan banyaknya uang di rekening kita. Boleh saja senang karena bisa jadi mahasiswa kampus ternama. Bole...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Masih tentang media dan powernya. Yakni saat semangat saya jadi membahana setelah membaca tulisan Bu Sirikit Syah di Jawa Pos tentang perjuangan Pak Dahlan memulangkan sang putra petir pulang kembali ke Indonesia. Tak disangka semangat saya bertambah setelab membaca postingan putra petir di Facebook barusan. Saya terkesan dengan keberaniannya mengangkat isu Jakarta, saat identitas seorang Muslim terkoyak oleh Ahok. Saya bukan pengamat politik. Namun yang jelas, sebagai Muslim kita wajib berjuang! Wajib! Bentuk Perjuangan Memang hari ini kita semua sama-sama berjuang. Hanya saja mungkin dalam tempat dan nuansa yang berbeda. Kata guru saya di ma'had, Ustadz Ali Ridho, "Muslim itu satu tubuh, sakit salah satu badan, maka saat semua ikut sakit." Ya, saat perut saya sakit, air matalah yang justru jatuh. Saat saudara menangis, sayapun ikut terluka, sama. Minimal Berdoa Saya juga ikut bersedih saat teman-teman sesama aktivis Muslim malah justru mencerca saudara...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Published by
Nabila Cahya Haqi
Namaku Islami Bela. Ya, semua tahu itu. Dalam ilusi, aku hanya mimpi, dalam senda gurau, tipu daya belaka. Karena dunia hanya tipu daya. Sebagai orang islam, kita harus bisa mempertanggung jawabkannya. Bukan hanya untuk penghias KTP, begitu kita tahu. Semua hanya sementara Tentu semua tahu Tapi dunia dan tipu dayanya akan terus mengejar Kita tertawa...terbahak-bahak "Hahaha...Kita berhasil..Inilah perjuangan kita. Wah tak sia-sia aku begini, begitu...bla-bla-bla.." Memang, tak boleh siapapun kita panggil di si bodoh, walau sebodoh apapun dia. "Karena hidup akan mengajarinya.."Begitu kami membaca buku milik sang pejuang. Aku pernah berfikir, buat apa semua ini dihadapkanNya? Ternyata jawabannya tak lain adalah "IBADAH". Baru saja aku dihadapkan, pada komputer, yang melahap seluruh jagad raya. Hingga adikku bilang, "Sampai kapan tuh...?" Facebook, Twitter, Google, Blogger, dan website-website lainnya. Ini yang dilakukan teman-teman hebatku. ...