Ujian Nasional telah didepan mata. Tepatnya 4 hari lagi menjelang Ujian Nasional tingkat SMA sederajat. Meski telah banyak dikritisi, UN masih tetap dilaksanakan sebagai ujian akhir jenjang sekolah. Jadi, bagimanapun kita harus tetap mempersiapkannya dengan matang. Bahasa Inggris tetap menjadi momok dari tahun ke tahun. Boro-boro bisa jawab, soalnya apa aja ndak ngerti, capek deh. Sehingga tidak heran, banyak yang memilih jalan pintas. Meski sadar jika cara ini salah, para siswa seakan terpaksa dan mau tidak mau memilih jalan curang ini. Sebagai seorang Muslim, Allah telah melarang kita berbuat curang. "Dan celakalah bagi orang-orang yang curang" Al-Muthoffifin: 1 Maka kita harus bisa menghapi UN ini dengan baik. Berikut cara cerdas agar kita bisa meraih nilai tinggi saat UN, sekaligus menempuh jalan yang mulia (baca: jujur). 1. Menghadapi Soal Listening Bahasa Inggris Tak dipungkiri jenis soal listening menjadi hal yang ditakuti. Bahkan banyak siswa yang...
Posts
Published by
Nabila Cahya Haqi
Seluruh area masjid penuh dengan manusia. Hampir tak ada ruang tersisa. Ibu-ibu bercadar sibuk mengarahkan jamaah ke celah-celah masjid yang masih tersisa, termasuk saya. Inilah suasana kajian di Masjid Al-Falah Surabaya yang mendatangkan Ustadz Zulkifli M. Ali, pakar tentang tanda-tanda akhir zaman. Satu persatu ciri akhir zaman mulai membuay hati ini bergidik. MasyaAllah, luar biasa dahsyat. Bahkan saat dajjal datang, tidak ada seorangpun yang mendatanginya, kecualu pasti ia akan kafir. Oleh karenanya saat terdengar dajjal datang, kita harus berusaha sekuar tenaga untuk menghindar. Di tengah hati yang berdebar-debar, Ustadz Zulkifli mengingatkan untuk mulai memperbaiki amal. Mulai memperbaiki sholat, baca Qur'an tidak hanya di bulan Ramadhan, dan amal sholih lainnya. Saya jadi teringat dengan Ramadhan.. Wah, kurang sebentar lagi. Sedang amal juga masih biasa-biasa. Marhaban ya Marhaban... Bulan Ramadhan akan segera datang hanya dalam hitungan kurang dari 90 hari...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Saya melihat anak-anak yang masih belia melantunkan bacaan Qur'an dengan indah, dan cadel khas anak-anak. Bukan membaca, melainkan menghafalnya, surat yang dibacapun rupanya belum saya hafal. Hafalan Qur'an mereka jauh dari saya. Ah, betapa indahnya memiliki anak-anak penghafal Al-Qur'an, pikir saya. Mereka bisa memberikan jubah kemuliaan untuk kedua orang tuanya. Mengangkat derajat kedudukan orang tuanya dihadapan Allah Azza wa Jalla. Mereka inilah keluarga Allah di dunia. Ya, Allah memiliki keluarga di dunia. Mungkin hal ini adalah sesuatu yang baru bagi kita. Begitu juga dengan saya. Namun Rasulullah telah mensabdakan tentang hal ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad, “Sesungguhnya Allah ta’ala memiliki keluarga dari golongan manusia (di muka bumi)...” Sungguh bahagia sekali jika kita bisa menjadi bagian dari keluarga Allah di dunia ini. Tapi siapakah mereka? Saat kita bertanya-tanya, dulu para sahabat saat mendengar hadits ...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Ada yang pernah naik hammock? Bukan satu meter diatas tanah, tapi diatas jurang! Saya pernah mencobanya! Liburan akhir tahun, saya sangat bersemangat untuk naik hammock. Bagaimana tidak pengen, beranda instagram dan facebook dipenuhi oleh foto teman-teman yang naik hammock. Namun kebanyakan foto itu diatas tanah biasa. Bedanya kali ini saya kebagian hammock diatas jurang. Sekali jatuh, kelar hidup ku. Hehe. Awal naik memang sangat menegangkan. Tapi setelah sudah duduk, rasanya tak mau turun. Sambil menikmati angin sepoi yang sangat menengkan. Sambil bertasbih dan berdzkir, menambah indahnya keimanan. Naik Hammock untuk Muslimah Persiapan pertama, tentu saja adalah persiapan nyali. Saat suami saya naik, ada perempuan yang lihat dan menjerit takut. Baru lihat saja takut, gimana kalo naik? Hehe. Setelah siapkan mental, jangan lupa basmalah. Saya juga memperbanyak istighfar di tengan ketakutan naiknya. Petugas yang ramah akan membantu kita untuk naik ...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Pernikahan adalah fase dalam kehidupan tiap hamba. Begitu pula dengan berketurunan. Sebagai salah satu tujuan pernikahan, anak adalah hal yang diharapkan dalam kehidupan. Tapi kehidupan selalu diiringi dengan kerikil. Banyak diantara kita yang masih belum menikah. Dan dengan entengnya orang lain bertanya padanya, "Kapan nikah" Pertanyaan yang membuat si pemilik hati gundah gulana. Menambah keperihan, dan berujung pada rasa tidak nyaman pada penanya. "Duh, teganya. Memang saya ingin seperti ini?" Ada pula diantara kita yang belum juga mendapat keturunan. Hal yang sama terjadi. Akan banyak orang bertanya, "Kapan hamil?" Pertanyaan yang membuat dada terasa sempit. Bumi yang luas serasa menghimpit. Akhirnya berujung hanya hati yang merana dan meradang. "Duh, tega sekali. Memang kami tak ingin punya anak?" Lalu apa yang bisa kita lakukan? Haruskah tiap pertanyaan yang menghujam itu menjadikan kita tak bahagia? Ikhlas dan Ri...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Percaya atau tidak, hanya sekali bertemu dengan suami saya langsung memutuskan untuk menuju jenjang pernikahan. Bertemu beberapa menit untuk kehidupan seumur hidup. Inilah ta'aruf. Dimana kita tak perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk hubungan yang tak menentu. Ta'aruf adalah sebuah proses perkenalan sebelum menuju jenjang perkenalan. Ta'aruf bukanlah pacaran, proses ini harus diniatkan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Beberapa proses ta'aruf adalah sebagai berikut. Proses Ta'aruf 1. Proposal Nikah Proses indah ini diawali dengan membuat proposal nikah. Proposal nikah ini tak hanya berisi biodata kita, melainkan hal yang spesifik. Seperti visi misi pernikahan, deskripsi keluarga, hingga kekurangan dan kelebihan kita. Setelah kita menyerahkan proposal ini pada Ustadz/Ustadzah/Murobbi yang menjodohkan kita, kita juga akan disodori proposal pernikahan milik calon pasangan. Jika memang kita tertarik untuk denga...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Menjadi pengajar lebih dari 10 tahun, menjadikan saya belajar betapa berat mengemban amanah untuk menjadi guru. Bermula dari mengajari anak-anak mengeja huruf hijaiyah, mengajari Bahasa Inggris, hingga mengajari menulis. Yang terakhir itulah yang paling berat, karena memotivasi murid untuk menulis sungguh sangat susah. Berbahagialah saat kita menjadi seorang pengajar. Pak atau Bu, Sir atau Miss, Ustadz atau Ustadzah, apapun namanya mereka adalah orang-orang yang mulia. Guru adalah lentera kehidupan. Mereka menjejakkan kaki di pelataran untuk mencetak generasi-generasi baru. Memegang amanah berat untuk mengubah kehidupan masyarakat. Merekalah tumpuan harapan kita, untuk menjadikan dunia, khususnya negara tercinta ini menjadi lebih baik. Mereka adalah pahlawan yang tidak sekedar mengajar dan menunggu awal bulan untuk gajian. Namun bekerja keras untuk menjadikan anak-anaknya menjadi berilmu dan beradab. Ya, ilmu dan adab. Miris sekali, saat mendenga...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Hari kelulusan 25 September 2016 Alhamdulillah, akhirnya saya benar-benar bisa lulus kuliah. 25 September adalah hari yang benar-benar bersejarah dalam kehidupan seorang Nabila yang sebenarnya bukanlah siapa-siapa. Bahagia, tentu. Bukan hanya karena lulus menyandang predikat alumnus UNAIR, tapi juga karena sehari sebelumnya telah genap usia menjadi 21 tahun. Tak lagi anak muda lagi. Setelah lulus, banyak kenangan indah berkelebat. Salah satunya adalah betapa serunya pernah jadi mahasiswa UNAIR. Dulu sekali, saya pernah punya mimpi jadi mahasiswa HI UGM, pernah juga ngos-ngosan mengejar beasiswa luar negeri. Bahkan pernah terpikir untuk menetap di timur tengah, jadi Ulama' hehe.. Tapi semua mimpi itu seakan tak diridhio Allah. Saya tahu betapa beratnya umi dan abi jika harus melepas anak perempuannya ke negeri orang. Saya jadi tahu rahasia Allah tentang hikmah ini. Setidaknya ada tiga hal terindah yang saya rasakan ketika jadi mahasiswa UNAIR. 1. Membuka Jendela Du...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Wahai saudaraku, masihkah hari ini Engkau menghirup nafas? Jika ya, sadarkah, bahwa kita terlalu hina untuk mendapatkan berbagai kenikmatan ini. Tak pernahkah kau tahu, saudara kita disana harus bertaruh nyawa hanya untuk menegakkan sholat jum'at. Atau saudara kita yang hari ini harus merasakan ketakutan. Ketakutan yang sangat menyeramkan. Tak ada rasa bahagia. Tak pernah merasakan nikmatnya tidur siang. Bahkan tank-tank siap menyerbu nyawa yang lemah. Saat jiwa-jiwa liar menerjang. Dan bom-bom yang bisa saja dengan sekejap menerobos atap rumah. Sudah terlalu sakit jiwa ini. Belum habis rasa sakit hati karena terlukanya saudara kita di Palestina. Rasa itu makin pilu ditambah dengan semakin bertambahnya jiwa-jiwa suci yang syahid di bumi Suriah. Belum ditambah Rohingya, dan berbagai kisah pilu yang terlalu sakit untuk dibahas. Boleh saja hari engkau ini kita berbangga dengan banyaknya uang di rekening kita. Boleh saja senang karena bisa jadi mahasiswa kampus ternama. Bole...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Masih tentang media dan powernya. Yakni saat semangat saya jadi membahana setelah membaca tulisan Bu Sirikit Syah di Jawa Pos tentang perjuangan Pak Dahlan memulangkan sang putra petir pulang kembali ke Indonesia. Tak disangka semangat saya bertambah setelab membaca postingan putra petir di Facebook barusan. Saya terkesan dengan keberaniannya mengangkat isu Jakarta, saat identitas seorang Muslim terkoyak oleh Ahok. Saya bukan pengamat politik. Namun yang jelas, sebagai Muslim kita wajib berjuang! Wajib! Bentuk Perjuangan Memang hari ini kita semua sama-sama berjuang. Hanya saja mungkin dalam tempat dan nuansa yang berbeda. Kata guru saya di ma'had, Ustadz Ali Ridho, "Muslim itu satu tubuh, sakit salah satu badan, maka saat semua ikut sakit." Ya, saat perut saya sakit, air matalah yang justru jatuh. Saat saudara menangis, sayapun ikut terluka, sama. Minimal Berdoa Saya juga ikut bersedih saat teman-teman sesama aktivis Muslim malah justru mencerca saudara...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Saya terdesak dengan kalimat dari Sirikit Syah, dosen senior Stikosa AWS Surabaya dalam kolom opini Jawa Pos, "Pers memang harus independen dan objektif. Namun dalam keadaan darurat, pers berhak melakukan perlawanan." Dalam dunia media kita sudah mafhum bahwa media memang menguasai masyarakat. Tapi ada pelajaran dari kisah tragis orang-orang islam yang terdholimi karena media. Sebut saja kisah Pak Dahlan Iskan yang kini berada di bui dengan kondisi memprihatikan. Padahal dokternya menyatakan ia bisa mati dengan kondisi fisik yang lemah karena transplantasi jantung. Suatu kali Dahlan pernah dimarahi karena korannya tidak memuat berita paling memilukan dengan dibredelnya detik, tempo, atau editor. Meski ia mengatakan tak bisa berbuat apa-apa di zaman order baru, tapi rupanya ia tidak diam, ia justru menampung para wartawan yang gulung tikar. Saya tidak akan membela dan memuji seorang Dahlan, toh saat lihat Jawa Pos di rumah tiap hari dengan hiasan wanita-wanita te...