“Saya disini bukan untuk membantu meraih mimpi, melainkan memberi hak-hak mereka … Bahwa mereka berhak atas kesempatan-kesempatan hidup yang lebih tinggi. Saya bukan tokoh utamanya. Merekalah tokoh utamanya. Saya bukan ibu peri, tetapi mereka peri-peri kecilnya, yang dengan serbuk-serbuk ajaib mampu menggemparkan dunia, mampu mengubah Indonesia” (P ipit Indrawati, Indonesia Mengajar) Banyak bintang-bintang kecil dalam kehidupan kita. Kita bertugas membuat lukisan di dalamnya. Lalu mereka tertawa dan menangis, seolah kita telah menjadi bagian dalam hidupnya. Bintang-bintang kecil itu adalah adik-adik kita, anak didik kita, binaan kita-apapun sebutannya- Allah hadirkan untuk kita tanami pesan-pesan kebaikan. Mengajari mereka mengenal Allah, mengenal ciptaanNya yang luar biasa, tentang ilmu-ilmu pengetahuan, dan sejuta hal berharga lain yang tidak bisa kita lakukan dalam aktivitas lain. Mengajari mereka mulai dari hal yang sederhana, membangunkan mereka untuk sholat subuh, hingga...
Posts
Published by
Nabila Cahya Haqi
"Fix whats already wrong" -K. H. Ahmad Dahlan Kalimat ini begitu menyentak saat tahun akan berganti sebentar lagi. Tahun ini menyisakan banyak harapan yang belum tuntas. Nama yang masih tersisa adalah.. "Sekolah Pelangi". Diantara banyak program pengabdian untuk masyarakat, nama ini serasa melekat. Sekolah Pelangi tempatku kembali mengulurkan tangan untuk 'kampung' kupang krajanku. Banyak hal yang seharusnya bisa lebih dilukiskan. Namun segala kesalahan telah tertoreh, salah satunya adalah hilangnya secercah semangat untuk menghidupkan Sekolah Pelangi ini. Benar-benar hilang. Segala yang salah harusnya tidak dianggap salah selamanya. Masih ada waktu untuk menyalakan kembali cahaya. Hadir di tengah-tengah lingkungan gelap bukanlah suatu pilihan. Daerah kupang krajan adalah daerah terdampak lokalisasi. Nama dolly memang sudah tidak lagi ada, sudah terkubur setelah Bu Risma menutup lokakisasi ini. Namun, hadir disini harusnya bisa mewarnai dan menyebarkan l...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Setelah masa penantian panjang, akhirnya bayi kecil itu datang ke dunia. Wajah perempuan yang bersimbah keringat menyunggingkan senyum. Lelaki yang sedari tadi menunggu itu masuk ke dalam ruangan. Ia tatap wajah istrinya dengan penuh arti, lalu berkata, "Maafkan aku, say. Maafkan." "Sudahlah. Ini salah kita berdua. Yang terpenting sekarang adalah kita jaga anak kita." jawab sang istri. "Aku ingin putra kita esok tidak menjadi seperti ayahnya." Sang perempuan hanya tersenyum lemah. Ia pandangi lagi wajah putarnya yang baru saja merasakan aroma dunia. "Mas, bolehkah aku minta sesuatu?" tanyanya, disambut dengan anggukan sang suami. "Aku ingin menamakan anak kita Zahratunni'mah." Tanpa menunggu alasannya, sang suami mengiyakan. Malam tiba, sang suami masih menunggui istrinya di rumah sakit. Mereka hanya berdua saja, tanpa ada sanak saudara yang menjenguk. Keheningan kemudian pecah oleh kedatangan seorang pemuda dengan menenteng ta...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Published by
Nabila Cahya Haqi
Katanya Katanya, engkau memilih yang rapi Sekali lagi, tempat ini masih berserakan Buku-buku tercecer memenuhi meja Benda-benda kecil hitam masih mewajahi lantai Kataya, tak ada lagi fajar yang terlewat tanpa penasbihan doa Sedang fajar hampir menghabiskan pekatnya Sekali lagi, masih bermimpi Berkawan batal dan guling Katanya Fajar ini adalah fajar yang merindu Bukannya Ramadhan yang dinanti telah lama menjelang Masih perlu, sekali lagi, perbaikan Perbaikan dan perbaikan. "Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari Sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (Al-Kahfi : 10) Katanya, engkau ingin aku berubah
Published by
Nabila Cahya Haqi
Agustus 2013 Hari ini sungguh tak terbayangkan, ini adalah hari pertama aku menginjakkan bumi di Surabaya. Luar biasa! Gedung dan mal-mal yang menjulang membuatku terus menerus menatap ke atas langit di sepanjang perjalanan menuju tempat asrama. Ketika sampai di asrama, hatiku sudah mulai tak karuan. Senang karena sebentar lagi aku akan berteriak pada dunia, “Saksikanlah dunia, sebentar lagi akan menuntut ilmu di uniersitas besar di Indonesia!” Namun juga pilu, karena harus meninggalkan banyak orang yang kucintai. Orang-orang yang senyumnya selalu menghias kehidupanku, Amak, Bapak, Mas Agus, dek Ola, dan lain-lain. Dalam lubuk hatiku aku berharap mereka semua bisa pindah di Surabaya dan menemaniku belajar disini. Ah, tak perlu berkhayal. Di sebelahku, kutatap wajah ibu yang terus berkaca-kaca. Sedangkan ayah dan Mas Bagus terus menatap gedung dan mal-mal yang menjulang di balik kaca bemo. Sedangkan aku terus menerus menenangkan hatiku yang terus bergejolak. Bag...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Masih lekang Saat cerita itu mengalir Dan kini semua terulang Cerita tentang teman Cerita kelam dan suram Saat kebenaran jadi keraguan Kau datang Membawa sebongkah kenyataan Aku hanya bisa mendengarnya Dengan hati yang memendam perih Harusnya aku bisa menggandengmu Saat kuhadir lagi dihidupmu Mungkin besok, Ada cahaya yang hadir Menyinari langkah dan hatimu
Published by
Nabila Cahya Haqi
Buatmu, cinta, kutaktahu siapa engkau Waktu bergulir seenaknya Tanpa kusadari, Aku tercekat dibawa terbang Masa remaja telah datang Bersama bintang dan badai Di saat itu pula, kukenal cinta Kulihat, temanku bermain cinta Kudengar, engkau berbicara cinta Kutahu, cinta memang hadir Cinta pertama menyapa, Tapi hitam kelam menerpa Kini sudah kutinggalkan Cinta kedua, Akhlaknya yang elok Tampil bersinar ditengah kerumunan Kaupun tahu, Kagum bukanlah cinta Tapi cinta mungkin terselip ditengah kekaguman Kini, Rabbku mengenalkan cinta Cinta sejati tak harus terbuai nafsu Cinta sejati, melampaui dua dimensi, dunya wal akhirat Cinta akan hadir, kelak Cinta yang akan mendekapku Cinta yang akan menjagaku Cinta yang menuntutku pada Rabbku Karena aku wanita Cinta yang hadir menjadi memimpinku Rabbanaa hablanaa min azwaajina wa dzurriyaatina qurrata a'yun Waj'alna lil muttaqiina imaama.. amin...
Published by
Nabila Cahya Haqi
“Assalamu’alaikum. Mau kemana dik?” tanyaku seraya menebarkan senyum pada wanita anggun di depanku ini. “Wa’alaikumsalam. Mmmm... Mau kesana. Mari...” katanya, tergesa. Kemudian dalam hitungan detik tak terlihat bayangannya. Hatikupun segera saja merindukannya. Merindukan wajahnya yang selalu teduh. Jika ada kata yang bisa kusampaikan padamu, Zahra, maka aku akan mengatakan, maafkan aku yang telah mencintaimu. Waktu membuatku tak mampu membohongi perasaanku selama ini. Selama itu pula aku bersama denganmu dan teman-teman disini, berjuang bersama. Aku hanya seorang pemuda yang tinggal di sebuah perkampungan di Surabaya. Dekat dengan kawasan lokalisasi. Aku dan keluargaku telah lama menjadi jama’ah di masjid Ar-Rahmah, yang termasuk dekat dengan daerah lokalisasi juga. Sayangnya kurang makmur masjid itu. Jama’ah yang sholat hanya segelintir. Tak pernah ada kajian-kajian yang memakmurkan masjid itu. Dengan tekad bulat aku mengumpulkan remaja-remaja muslim di daerahku ...
Published by
Nabila Cahya Haqi
Published by
Nabila Cahya Haqi
( RAMADHAN ) PESAN PENDEK - Bulan Ramadhan yang ditunggu oleh kaum Muslimin telah tiba. Kerinduan telah terobati dan penantian telah berakhir. Selayaknya setiap insan Muslim memanfaatkan kesempatan emas ini sebelum Ramadhan berlalu. Marilah kita mengoreksi diri agar tidak mengulangi kesalahan-kesalahan di masa silam. S emoga sisa usia yang terbatas dengan ajal ini bisa termanfaatkan dengan baik untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya dan menjadi penghapus segala dosa. Kedatangan bulan Ramadhan teramat sangat sayang bila dibiarkan begitu saja. Itulah sebabnya, semangat berlomba melakukan kebaikan bergelora pada bulan yang penuh barakah ini. Namun, haruskah semangat berlomba-lomba ini hanya ada di bulan ini saja ? Ingat, Allah Azza wa Jalla berfirman : فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan [al-Baqarah/2:148] Sumber : Yusuf Mansur Network